Entri Populer

Selasa, 01 Februari 2011

hutan pegunungan, hutan dataran rendah, dan tipe ekosistem hutan buatan


Hutan Pegunungan

Hutan pegunungan terdiri dari komposisi jenis dan tinggi tumbuhan yang bervariasi sehingga membentuk strata kanopi (lapisan tudung) yang jelas. Terbagi atas:
  1. Hutan Pegunungan Rendah (sub-mountaine forest)
Hutan ini terdapat di daerah Indonesia dengan ketinggian antara 1.300 m sampai 2.500 m di atas permukaan laut. Hutan pegunungan memberikan manfaat bagi masyarakat yang hidup di gunung maupun yang tinggal di bawahnya. Hutan yang ada merupakan sumber kehidupan. Dari hutan pegunungan, mereka memanfaatkan tumbuhan dan hewan sebagai makanan, obat-obatan, kayu bakar, bahan bangunan dan lain sebagainya. Selain itu masyarakat yang tinggal di bawahnya membutuhkan hutan pegunungan yang lestari sebagai daerah tangkapan air atau resapan air. Terletak pada ketinggian 1000-2500 meter di atas permukaan laut. Dominasi vegetasi di hutan ini berbeda-beda, tergantung pada ketinggiannya. Ketinggian 1000-1500 meter didominansi oleh tumbuhan semak, sedangkan pada ketinggian lebih dari 1500 meter didominansi oleh lumut, anggrek, dan tumbuhan paku efifit.
  1. Hutan Pegunungan Atas (mountaine forest)
Hutan ini terdapat di daerah daerah Indonesia dengan ketinggian di atas 3.500 m di atas permukaan laut. Hutan ini berfungsi sebagai cagar alam dan taman wisata alam. Vegetasi hutan pegunungan yang dijadikan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam termasuk tipe hutan hujan tropik pegunungan dengan floranya terdiri dari jenis-jenis pohon dan liana serta epiphyte. Meliputi daerah dengan ketinggian 2500-3300 meter di atas permukaan laut. Hutan ini memiliki pohon-pohon dengan tinggi hingga 25 meter dan sangat lebat, tetapi keanekaragaman jenisnya sangat sedikit dibandingkan dengan hutan dibawahnya.
Contoh hutan pegunungan Baturaden
1. Kondisi Umum
Wilayah hutan bagian Pemangkuan Hutan Gunung Slamet Barat – KPH Banyumas Timur terletak pada ; 15o Bujur Timur – 20 o 30’ Bujur Timur, 7 o 10’ Lintang Selatan – 7 o 20’ Lintang Selatan. Batas Wilayah Hutan yaitu ; Utara : BKPH Bumi Jawa KPH Pekalongan Barat, Timur : BKPH Gunung Slamet Timur, Selatan : BKPH Jatiwalang dan Barat : BKPH Bumiayu KPH Pekalongan Barat. Luas wilayah pemangkuan hutan bagian kesatuan pemangkuan hutan Gunung Slamet Barat : 14 780,40 ha, terdiri dari :Hutan Lindung : 11.808,5 ha, Hutan Produksi : 2.526,1 ha, Hutan Wisata : 69,3 ha, Kebun Raya : 143,5 ha, Ldti : 127,6 ha, APB : 105,4 ha.
Pembagian Kelas Hutan bagian kesatuan pemangkuan hutan Gunung Slamet Barat adalah KU:1.400,7 ha, THKL: 680,1 ha, HAKL:1.703,6 ha, HL:11.808,5 ha dan TBP:160,2 ha. Pembagian Wilayah Berdasarkan Resort Pemangkuan Hutan adalah Baturraden: 4.872,45 ha, Karanggandul: 5.122,05 ha dan Lebaksiu: 4.785,95 ha.
Pembagian wilayah berdasarkan administratif pemerintah:
1. Kecamatan Kutosari, meliputi desa : Cendana dan Karangjengkol
2. Kecamatan Sumbang, meliputi desa : Limpakawus, Ginda tapa dan Sikapat.
3. Kecamatan Baturraden, meliputi desa : Baturraden, Kemutung Lor, Karangsalam dan Karangmangu.
4. Kecamatan Kedung Banteng, meliputi desa : Medung, Windujaya, Baseh dan Kalisalak.
5. Kecamatan Karanglewat, meliputi desa : Suryalangu.
6. Kecamatan Cilongok, meliputi desa : Sokawera, Gunung Lurah, Sambirata dan Karangtengah.
7. Kecamatan Pekuncen, meliputi desa: Glempang, Pekuncen dan Krajan.
2. Komponen Vegetasi
Hasil analisis vegetasi pada tipe ekosistem hutan pegunungan atas menunjukkan untuk tingkat semai didominasi oleh Wilada merah dengan nilai INP sebesar 50.8%, tingkat pancang didominasi oleh Wilada ijo dengan nilai INP 37.7%, tingkat tiang didominasi oleh Pasang dengan nilai INP sebesar 69.8%dan tingkat pohon didominasi oleh Pasang dengan nilai INP sebesar79.8%. terdapat juga berbagai jenis tumbuhan bawah dimana yang mendominasinya adalah jenis keji beling. Pada hutan pegunungan atas, dapat ditemui anggrek, dan pohon-pohonnya ditumbuhai lumut, serta banyak dijumpai paku-pakuan.
Hasil analisis vegetasi pada tipe ekosistem hutan pegunungan bawah menunjukkan untuk tingkat semai didominasi oleh Tembagan dengan nilai INP sebesar 38.22% tingkat pancang didominasi oleh Jerakah dengan nilai INP 39.61%, tingkat tiang didominasi oleh Tembagan dengan nilai INP sebesar 94.4%, dan tingkat pohon didominasi oleh Pasang dengan nilai INP sebesar 49.8%.
3. Komponen Satwaliar
Pengamatan satwa liar ini dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 06.30 waktu setempat dengan tujuan agar suara-suara ataupun satwa-satwa yang ada di hutan ini belum terganggu oleh aktifitas manusia. Jenis-jenis satwaliar yang dapat ditemui pada tipe hutan pegunungan atas adalah dari kelompok aves dan mamalia. Dari kelompok aves terdiri dari Percit (Dicaeum trochileum), Pacetan (Prinia familiaris), Cucak gunung (Pycnonotus bimaculatus), Cipoh (Aegithina tiphia), Kipasan (Rhipidura javanica), Prenjak (Prinia familiaris), Krit gantil, Tangkur tohtor (Megalaima armillaris), Puyuh (Arborophilajavanica), Kacamata (Zosterops palpebrosus), Madu (Aethopygaeximia), Merbah belikar (Pycnonotus plumosus),Bubut jawa (Centropus nigrorufus), Petutut (Megalaima cerunia), Cabai gunung (Dicaeum sanguinolentum), untu jenis burung lainnya sudah terlampir dalam lampiran satwa liar hutan pegunungan atas. Untuk jenis mamalia pada pengamatan ini ditemui musang (Parodoxurus hermaproditus) melalui kotorannya dan lutung kelabu (Presbytis cristata) melalui penglihatan dari pengamat. Jenis satwaliar yang dapat ditemui di hutan pegunungan bawah adalah hampir sama dengan jenis satwa yang ditemukan di hutan pegunungan atas diantaranya Percit (Dicaeum trochileum), Pacetan (Prinia familiaris), Cucak gunung (Pycnonotus bimaculatus), Cipoh (Aegithina tiphia), Kipasan (Rhipidura javanica), Prenjak (Prinia familiaris), Kacamata (Zosterops palpebrosus), elang ular (Spilornis cheela), dan lain-lain. Untuk kelompok mamalia ditemukan bajing (Callosciurus notatus) secara langsung dan lutung kelabu (Presbytis cristata) secara tidak langsung yaitu melalui kotorannya.
4. Kondisi Fisik Lingkungan
Topografi lahan pada hutan pegunungan atas sangat curam. Permukaan tanah banyak ditutupi serasah yang sudah membusuk setebal 1 cm, tanah gembur, warna tanah cokelat kehitaman dengan tekstur liat berpasir, KTK tanah sedang dan pH 6. kondisi suhu di hutan pegunungan atas ini adalah 140C dengan kelembaban rata-rata lebih dari 100%. Hutan pegunungan bawah memiliki topografi yang berbukit-bukit dan lembah dan banyak terdapat jurang yang cukup terjal. Permukaan tanah banyak terdapat serasah yang membusuk, tanah gembur dan berwarna coklat kehitaman, pH tanah sebesar 6 dengan KTK tanah sedang. Suhu udara di lokasi berkisar 17,50C-180C dengan kelembaban berkisar antara 80,5-96%.
5. Sistem Pengelolaan
Wilayah hutan pegunungan Gunung Slamet, Baturraden dikelola oleh PT. Palawi. PT. Palawi (Perhutani Alam Wisata) adalah anak perusahaan Perum Perhutani (BUMN) bergerak dibidang wisata alam serta Tour & Travel, selain itu juga menangani kegiatan ticketing (KA-pesawat), Outdoor Activities (trekking, hikking, outbound act, arung jeram, telusur sungai), dengan lokasi/ unit kerja di Jatim, Jateng, Jabar, Banten (area perum Perhutani) serta tidak menutup area lain sesuai dengan keinginan client.
Berbagai wisata mulai dari loka wisata Baturraden, Pancoran 7, Pancoran 3, telaga sunyi, dan bumi perkemahan menjadi daya tarik pengelolaan wilayah BKPH Banyumas Timur terutama RPH Baturraden.
6. Peranan/ Manfaat dan Permasalahan
Hutan pegunungan Gunung Slamet mempunyai tegakan yang cukup rapat. Kondisi ini mengukinkan hutan ini sangat berperan sebagai :
  • Kawasan hutan lindung sehingga mempunyai fungsi menjaga sistem tata air dan tanah.
  • Pencipta iklim mikro dan penyerap karbondioksida yang ada di udara.
  • Berperan bagi satwa liar yaitu untuk mencari makan, untuk berkembang biak dan untuk tempat tinggal.
  • Sebagai daerah wisata, dengan sendirinya kawasan ini dapat digunakan oleh penduduk sekitar untuk mencari nafkah, misalnya dengan cara berjualan souvenir di daerah sekitar tempat wisata dan sebagainya.
Permasalahan yang ada di wilayah ini adalah kondisi fisik yang berbukit, terjal dan mudah longsor sehingga berpotensi terjadi erosi tanah. Selain itu, perburuan berbagai satwa secara illegal telah mengurangi populasi satwa yang endemik dan di lindungi. Oleh karena itu, perlu tindakan preventif untuk mengurangi kegiatan illegal yang ada serta perlu tindakan konservasi yang berkelanjutan dari berbagai pihak yang terkait.
Masalah lain adalah terjadinya penebangan liar yang merusak hutan dan terjadinya insiden jembatan di loka wisata Baturraden yang menyebabkan turunnya tingkat kunjungan ke darah ini baik untuk kegiatan wisata maupun pendakian. Maka perlu ada penyuluhan dan promosi yang lebih gencar agar tingkat kunjungan kembali meningkat.



Hutan Dataran Rendah

Hutan dataran rendah merupakan hutan yang tumbuh di daerah dataran rendah dengan ketinggian 0 - 1200 m. Hutan hujan tropis yang ada wilayah Dangkalan Sunda seperti di Pulau Sumatera, dan Pulau Kalimantan termasuk hutan dataran rendah.
Hutan dataran rendah Sumatera memiliki keanekaragaman hayati yang terkaya di dunia. Sebanyak 425 jenis atau 2/3 dari 626 jenis burung yang ada di Sumatera hidup di hutan dataran rendah bersama dengan harimau Sumatera, gajah, tapir, beruang madu dan satwa lainnya. Selain itu, di hutan dataran rendah Sumatera juga ditemukan bunga tertinggi di dunia (Amorphophallus tittanum) dan bunga terbesar di dunia (Rafflesia arnoldi).
Hutan Hujan Dataran Rendah Sumatera
Hutan merupakan satu kesatuan ekosistem penyangga kehidupan yang di dalamnya hidup berbagai flora dan fauna yang saling berinteraksi membentuk keseimbangan kehidupan hayati. Bagi bangsa Indonesia, hutan merupakan salah bentuk ekosistem penting, selain terumbu karang, yang didalamnya terdapat keanekaragaman hayati yang tinggi. Untuk ekosistem hutan, hutan hujan dataran rendah Sumatera merupakan salah satu ekosistem terpenting di dunia karena secara topografis menghubungkan dua tipe ekosistem hutan lainnya yaitu hutan pantai dan hutan dataran tinggi dan terutama karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. 
Berbagai jenis burung dan mamalia besar hidup di hutan dataran rendah Sumatera. Untuk jenis burung saja pada hutan dataran rendah Sumatera terdapat 425 dari 626 jenis burung yang hidup di hutan hujan Sumatera. Jenis-jenis burung tersebut antara lain adalah rangkong papan (Buceros bucornis),sempidan Sumatera (Lophura inornata), srigunting Sumatera (Dicrurus sumatranus), dan Bondol tunggir-putih (Lonchura striata). Selain itu Sumatera juga merupakan habitat bagi jenis-jenis mamalia besar yang tidak dijumpai di wilayah lain seperti harimau Sumatra (Panthera tigris), gajah (Elephas maximus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), beruang madu (Helarctos malayanus) dan Tapir (Tapirus indicus). Keanekaragaman hayati yang tinggi yang dimiliki oleh hutan dataran rendah Sumatera, menempatkan hutan Sumatera menjadi salah satu ekosistem terpenting di dunia.
Namun hutan dataran rendah Sumatera mengalami penyusutan yang sangat drastis. Saat ini, hutan dataran rendah yang tersisa hanya seluas 500.000 hektar dari 16.000.000 hektar di tahun 1900. Kondisi ini utamanya disebabkan oleh semakin meningkatnya aktivitas penebangan kayu (baik yang legal maupun ilegal), pembukaan lahan hutan dan peralihan fungsi kawasan hutan untuk penggunaan lain. Dengan laju penyusutan hutan yang tinggi ini, World Bank pada tahun 2000 memperkirakan bahwa hutan dataran rendah Sumatera akan habis dalam waktu yang sangat dekat jika tidak ada tindakan segera untuk menyelamatkannya.
Sebagian besar spesies tumbuhan endemis Sumatera ditemukan di hutan-hutan dataran rendah yang berada di bawah 500 meter, meskipun sampai saat ini baru sekitar 15% dari keseluruhannya yang telah tercatat. Hutan primer Sumatera yang masih tersisa hanyalah kurang dari 40%. Tingkat penebangan hutan saat ini rata-rata sebesar 2,5% per tahun, dan yang terparah terjadi di daerah dataran rendah dan hutan-hutan perbukitan yang kaya akan spesies. Para ilmuwan memprediksikan bahwa semua hutan tropis dataran rendah Sumatera akan lenyap di tahun 2005.
Hutan Dataran Rendah Sumatera dan Manfaatnya
Seperti telah disebutkan sebelumnya, hutan dataran rendah adalah hutan yang berada di bawah ketinggian 1000 meter dpl. Hutan kering dataran rendah adalah kawasan hutan yang berada di ketinggian di bawah 1000 m dpl dan tidak tergenang air. Berdasarkan interpretasi citra satelit Sumatera tahun 2000, tutupan hutan kering dataran rendah yang masih tersisa saat ini antara lain sebagian besar berada di Provinsi Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan yang terbagi dalam:
  1. Provinsi Jambi
Kelompok hutan Bukit  Tigapuluh, Bukit Panjang – Bukit Siguntang, Bukit Bakar – Bukit Gajah, Bukit Duabelas, Batang Asai, Pelepat, dan Bukit Bahar -  Tajau Pecah.
  1. Provinsi Sumatera Selatan
Kelompok hutan Dangku – Meranti, Benakat, Gumai Pasemah, Musi Rawas.
  1. Provinsi Riau
Kelompok hutan Bukit Tigapuluh, Air Sawan – Teso Nilo, Bukit Rimbang Baling, Peranap.
Hutan dataran rendah Sumatera memiliki beragam manfaat baik secara langsung maupun tak langsung. Manfaat langsung dari hutan dataran rendah yang saat ini sudah secara langsung dirasakan adalah manfaat kayu dan hasil hutan non kayu seperti rotan, madu, dan lain-lain. Namun demikian pemanfaatan hasil hutan non kayu belum dikelola secara optimal terutama dari segi keberlanjutan produksi.
Manfaat tidak langsung hutan adalah yang belum dieksplorasi saat ini adalah jasa lingkungan. Pemanfaatan jasa lingkungan memiliki dampak yang positif terhadap ekosistem karena tidak melakukan ekstraksi hasil hutan. Hutan dataran rendah Sumatera berperan besar dalam menjaga kestabilan iklim, menjaga tata air, penyerapan karbon dari udara dan sebagainya. Jasa lingkungan yang bisa dikembangkan dalam konsep pemanfaatan adalah ekowisata, olahraga tantangan, pemanfaatan air dan usaha penyelamatan hutan dan lingkungan.
Potensi Pengembangan
Situasi dimana kualitas ekosistem hutan dataran rendah, khususnya di Sumatera, semakin menurun menunjukkan perlunya sebuah pendekatan baru dalam upaya pengelolaan hutan. Pola pengelolaan hutan konvensional yang hanya berorientasi pada potensi kayu semata sudah perlu ditunjau kembali. Oleh karena kondisi hutan dataran rendah Sumatera semakin memburuk, sudah saatnya dikedepankan upaya pemulihan ekosistem agar hutan dapat terus dimanfaatkan di masa depan.
Beberapa alternatif pemanfaatan hutan dengan prinsip mengedepankan pemulihan ekosistem adalah ekowisata dan eduwisata yang mengkombinasikan pendidikan dan wisata alam bebas. Keanekaragaman hayati di hutan dataran rendah yang telah diarahkan sebagai lokasi restorasi ekosistem dapat menjadi obyek wisata yang menarik. Dan oleh karena program restorasi ekosistem merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan di dunia, maka kegiatan eduwisata akan menjadi hal yang sangat menarik untuk dikembangkan di dalam kawasan ini.
Restorasi Ekosistem
Untuk menekan laju deforestasi berbagai upaya dilakukan pemerintah diantaranya melalui pemberantasan illegal logging. Selain itu pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan baru-baru ini telah mengeluarkan sebuah pengelolaan hutan produksi baru yaitu melalui kegiatan restorasi ekosistem.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. SK.159/Permenhut-II/2004, Restorasi Ekosistem adalah upaya mengembalikan fungsi abiotik dan biotik dari hutan produksi sehingga tercipta keseimbangan hayati. Restorasi Ekosistem di hutan produksi dicirikan dengan adanya jeda balak selama masa restorasi, dialakukannya kegiatan pengamanan ekosistem, penanaman dan pengayaan di kawasan hutan produksi yang produktif, kurang produktif dan tidak produktif.
Berdasarkan itu maka pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan hutan produksi, dalam hal ini hutan dataran rendah Sumatera merupakan tujuan Restorasi Ekosistem, pemanfaatan hutan dalam masa pemulihan adalah berdasarkan pada keseimbangan antara ekologi, ekonomi, dan tanggung jawab sosial yang didukung oleh unsur transparansi dan partisipasi oleh para pihak.
Melalui surat keputusan menteri kehutanan No. SK.83/Menhut-II/2005 telah diarahkan kelompok hutan sungai Meranti sungai Kapas di provinsi Jambi dan provinsi Sumatera Selataan seluas ± 101.355 hektar untuk arahan lokasi restorasi ekosistem di kawasan hutan produksi.
Kawasan yang telah diarahkan sebagai lokasi restorasi ekosistem ini dikelilingi oleh kawasan yang telah terokupasi dalam bentuk perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman, dan hutan alam produksi. Walaupun demikian, kawasan hutan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan potensi regenerasi yang memungkinkan untuk dapat pulih. Pada kawasan ini hidup 235 jenis burung atau setengah dari jenis burung yang hidup di hutan dataran rendah Sumatera. Setidaknya terdapat 8 jenis rangkong dari 10 jenis yang hidup di pulau Sumatera, diantaranya adalah rangkong gading (Buceros vigil), rangkong badak (Buceros rhinoceros) dan kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus) yang kesemuanya termasuk jenis yang terancam dan dilindungi oleh Pemerintah Indonesia. Disamping itu juga hidup burung-burung endemik seperti sempidan Sumatera (Lophura inornata), dan srigunting Sumatera (Dicrurus sumatranus). Bukan hanya itu, 5% dari perkiaan populasi harimau Sumatera yang tersisa saat ini diketahui hidup di dalam kawasan hutan ini bersama-sama dengan gajah Sumatera, tapir, beruang madu, simpai, dan berbagai jenis mamalia besar lainnya. Berdasarkan hasil survey keanekaragaman hayati yang dilakukan BirdLife Indonesia sejak tahun 2002, selain 235 jenis burung dan 40 jenis mamalia, berhasil diidentifikas 33 jenis reptil dan 25 jenis amfibia. Oleh karena itu kawasan ini menjadi surga keanekaragaman hayati yang terisolasi.
Didasari oleh tingginya keanekaragaman hayati dan semakin cepatnya laju degradasi hutan dataran rendah Sumatera, Konsorsium BirdLife yang terdiri dari BirdLife Indonesia, BirdLife International dan Royal Society for the Protection of Birds mendukung dan terus-menerus mendorong terlaksananya kegiatan restorasi ekosistem ini. Konsorsium ini telah menandatangani pernyataan dukungan terhadap kegiatan restorasi ekosistem dan berkomitmen untuk menyediakan bantuan teknis serta pendanaan melalui perusahaan pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dengan kegiatan restorasi ekosistem di hutan produksi di Provinsi Sumatera Selatan. Dengan dukungan kemitraan dan keanggotaan yang besar dari ketiga organisasi yang bergerak di bidang pelestarian burung dan habitatnya ini, Konsorsium BirdLife yakin bahwa restorasi ekosistem dapat berhasil dijalankan di Indonesia dan akan menjadi harapan bagi hutan hujan dataran rendah Sumatera untuk selamat dari ancaman kepunahan.
Vegetasi hutan dataran rendah memiliki keunikan tersendiri. Dua karakteristik utama yang membedakan hutan dataran rendah dengan bioma terestrial lainnya adalah tingginya kerapatan jenis pohon dan status konservasi tumbuhannya yang hampir sebagian besar dikategorikan jarang secara lokal (Clark et al., 1999). Komposisi jenis dan keanekaragaman tumbuhan di hutan tergantung pada beberapa faktor lingkungan seperti kelembaban, nutrisi, cahaya matahari, topografi, batuan induk, karateristik tanah, struktur kanopi dan sejarah tataguna lahan (Hutchincson et al., 1999). Vegetasi hutan dataran rendah dapat ditemukan di Cagar Alam Tangkoko, yang secara administratif terletak di wilayah Desa Batuputih, Kecamatan Bitung Utara, Kotamadya Bitung, Sulawesi Utara. Secara umum kawasan ini mempunyai topografi dari landai sampai bergunung dengan ketinggian sampai 1.109 m dpl, mulai dari hutan dataran rendah, hutan pegunungan dan hutan lumut. Puncak Gunung Tangkoko memiliki diameter ±1 km. Menurut Schmidt dan Ferguson, kawasan ini mempunyai curah hujan 2.500-3.000 mm/tahun, temperatur rata-rata 200C-250C, dengan musim kemarau pada bulan April-November. Kawasan ini ditunjuk sebagai salah satu cagar alam oleh Pemerintah Belanda melalui GB No. 6 Stbl. 90 tanggal 12 Pebruari 1919 dengan luas 3.196 ha. Secara geografis kawasan ini terletak pada 12503’-125015’ BT dan 103’-1034’ LU karena memiliki tipe ekosistem yang beragam dari vegetasi pantai hingga pegunungan dan memiliki beberapa satwa endemik seperti tangkasi (Tarsius spectrum), yaki/monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) dan burung rangkong (Rhyticeros cassidix), air terjun dan sumber air panas (Cenderawasih dkk., 2005). Suatu vegetasi terbentuk oleh adanya kehadiran dan interaksi dari beberapa jenis tumbuhan di dalamnya. Salah satu bentuk interaksi antar jenis ini adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu tipe komunitas yang khas, ditemukan dengan kondisi yang sama dan berulang di beberapa lokasi. Asosiasi dicirikan dengan adanya komposisi floristik yang mirip, memiliki fisiognomi yang seragam dan sebarannya memiliki habitat yang khas (Daubenmire, 1968; Mueller-Dombois dan Ellenberg, 1974; Barbour et al., 1999). Asosiasi terbagi menjadi asosiasi positif dan asosiasi negatif. Asosiasi positif terjadi apabila suatu jenis tumbuhan hadir secara bersamaan dengan jenis tumbuhan lainnya dan tidak akan terbentuk tanpa adanya jenis tumbuhan lainnya tersebut. Asosiasi negatif terjadi apabila suatu jenis tumbuhan tidak hadir secara bersamaan (McNaughton dan Wolf, 1992). Studi yang telah dilakukan di kawasan ini pada umumnya mengenai penelitian satwa seperti tarsius dan yaki, sebaliknya informasi tentang keanekaragaman flora masih jarang ditemukan. Oleh karena itu, studi vegetasi di kawasan ini sangat perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai tingkat dominasi dan asosiasi tumbuhan yang berada di kawasan hutan dataran rendah di bagian utara CA Tangkoko.
Tercatat 93 jenis pohon di kawasan hutan dataran rendah CA Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara, yang terdiri atas 58 marga; 38 suku tumbuhan serta 7 jenis tergolong ke dalam kelas pohon dewasa dan 86 jenis termasuk kelas tiang. Palaquium sp. merupakan jenis pohon yang mendominasi dengan Indeks Nilai Penting sebesar 21,05. Cananga odorata dan Dracontomelon dao adalah jenisjenis tumbuhan yang mendominasi di lokasi penelitian setelah Palaquium sp. Terdapat 1 pasangan jenis berasosiasi secara positif di antara 7 jenis pohon dominan di hutan dataran rendah CA Tangkoko yaitu C. odorata dengan kayu kapur. Umumnya pasangan jenis dominan lainnya berasosiasi negatif.

Tipe Ekosistem Hutan Buatan

Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosisem buatan adalah:
Ekosistem kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi yang banyak. Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar, serta memiliki pengeluaran yang eksesif seperti polusi dan panas.
Ekosistem ruang angkasa bukan merupakan suatu sistem tertutup yang dapat memenuhi sendiri kebutuhannya tanpa tergantung input dari luar. Semua ekosistem dan kehidupan selalu bergantung pada bumi.
Hutan buatan disebut hutan tanaman, yaitu hutan yang terbentuk karena campur tangan manusia.
a.       Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Statusnya
Berdasarkan statusnya, hutan di Indonesia dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Hutan negara, yaitu hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah.
2) Hutan hak, yaitu hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Hak atas tanah, misalnya hak milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), dan hak guna bangunan (HGB).

Hutan buatan adalah sebuah hutan yang keberadaannya bukan disebabkan karena kejadian alam. Melainkan muncul karena disengaja diciptakan dan dibudidayakan oleh manusia. Karena itu, hutan ini memiliki karakter dan jenis yang berbeda dari hutan alam yang tumbuh dan muncul karena alam tanpa campur tangan manusia.
Berbeda dari hutan alam, keberadaan hutan buatan lebih mudah untuk diklasifikasikan. Mengingat hutan jenis ini biasanya memiliki karakteristik yang homogen sehingga lebih mudah dikenali untuk dipelajari. Homogenitas ini meliputi masalah jenis tanaman, umur tanaman dan metode penanamannya. Sementara untuk hutan alam, karakteristiknya lebih bervariasi. Karena hutan alam terbentuk secara alami, sehingga tidak bisa dikontrol oleh manusia. Baik itu dalam hal jenis tanaman yang ada hingga umur tanaman yang berbeda-beda.
Jenis Hutan Buatan
Beberapa jenis hutan yang tergolong hutan buatan di antaranya adalah :
  1. Hutan karet
  2. Hutan Pinus
  3. Hutan Jati
  4. Hutan Tusam
  5. Hutan Sengon
Fungsi Hutan Buatan
Karena sengaja diciptakan oleh manusia, tentu hutan buatan memiliki beberapa tujuan. Di antaranya adalah :
  1. Memenuhi kebutuhan industri manusia.
Bahwa dunia industri banyak yang membutuhkan bahan baku yang bersumber dari jenis kayu tertentu. Jika mengandalkan hasil hutan alam, tentu hal ini tidak akan mampu memenuhi kebutuhan industri tersebut. Untuk itu, hutan buatan yang jenis kayunya disesuaikan dengan kebutuhan industri diciptakan.
  1. Penyeimbang alam
Adanya pembabatan hutan alam secara liar oleh manusia menyebabkan kerusakan di sebagian kawasan hutan alam. Di sinilah fungsi hutan buatan timbul sebagai penyeimbang agar rasio hutan yang baru dan rusak bisa seimbang agar tidak menyebabkan kerusakan ekosistem.
  1. Penghijauan
Dunia membutuhkan hutan sebagai pembersih kotoran yang dihasilkan industri. Karena polusi udara yang menghasilkan zat-zat yang berbahaya bagi manusia, hanya bisa dibersihkan oleh adanya tumbuh-tumbuhan hijau, yang salah satunya dengan mengandalkan keberadaan tanaman di hutan-hutan buatan tersebut.
  1. Wisata
Minimnya lokasi wisata yang sehat di berbagai wilayah khususnya perkotaan, menjadikan perlunya dibuat sebuah kawasan yang nyaman dan bersih dari polusi. Salah satunya dengan menciptakan hutan buatan yang bisa dirancang untuk berada di sebuah kawasan strategis yang mampu dijangkau oleh banyak orang dari berbagai daerah.

Daftar pustaka

Soerianegara, I dan A. Indrawan. 1983. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Departemen Kehutanan-IPB.
Sugiharyoanto. 2007. Geografi dan Sosiologi 1SMP Kelas VII. Jakarta:YudhistiraMackinnon, Kathy.1986. Alam Asli Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia
Farb, Peter.1982. HUTAN. Jakarta: Tri Pustaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar